PENGEMBANGAN KESADARAN MULTIBUDAYA BAGI CALON KONSELOR DI ERA GLOBALISASI

Iman Rohiman, Rahmat Pamuji

Abstract


Bimbingan dan Konseling multikultural merupakan gerakan dalam pemikiran dan praktik tentang pengaruh ras, etnik, dan budaya dalam proses konseling yang melibatkan konselor dan konseli yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan terjadi bias–bias budaya (cultural biases). Bimbingan dan konseling multikultural atau bimbingan dan konseling lintas budaya sangat tepat untuk lingkungan yang berbudaya plural seperti di Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhineka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Meski demikian, pendekatan konseling multikultural tidak mengabaikan pendekatan tradisional yang selama ini digunakan, melainkan dengan mengintegrasikannya dengan perspektif budaya Indonesia yang beragam. Calon konselor professional yang berasal dari berbagai budaya yang berbeda diharapkan mampu memahami karakter budaya masing-masing konseli dimanapun dan berasal dari manapun konseli tersebut. Calon konselor professional tidak bisa mengagungkan budaya sendiri dan mengecilkan budaya lain. Sehingga pemahaman budaya yang ada di seluruh Indonesia pada khususnya menjadi tanggung jawab moral sebagai calon konselor.

Full Text:

PDF

References


Atmoko, A &Faridati, E. (2015). Bimbingan Konseling Untuk Multikultural di Sekolah. Malang: Elang Mas.

Barriyah, K., dkk. (2016). Kesadaran Multikultural dan Urgensinya dalam Bimbingan dan Konseling. Vol 3 No. 1 Tahun 2016.

Brown, S., William, C. (2003). Ethics in a Multicultural Context. Sage Publication, USA

Dupraw, M.E & Axner, M. (2002). Working on common cross-cultural communication challenges. Toward a More Perfect Union in an Age of Diversity. (Online). (www.pbs.org/ampu/crosscult/html), diakses 10 Agustus 2017.

Kartadinata, Sunaryo. (2005). Arah dan Tantangan Bimbingan dan Konseling Profesional: Proposisi Historik-Futuristik. Seminar Nasional: Perspektif Baru Profesi Bimbingan dan Konseling di Era Globalisasi, Bandung, 21 Maret 2005.

Kertamuda, Fatchiah. (2011). Konselor dan Kesadaran Budaya (Cultural Awareness). Universitas Paramadina. Jakarta.

Kompas. (2012). Polresta Bekasi Sesali Insiden Filadelfia. (Online). (http://nasional.kompas.com/read/2012/12/26/05510649/Polresta.Bekasi.Sesali.Insiden.Filadelfia), diakses 10 Agustus 2017.

Locke, D.C. (1992). Increasing Multikultural Understanding: A Comprehensio Model. California: Sage Publications.

Moule, Jean. (2012). Cultural Competence: A primer for educators. Wadsworth/Cengage, Belmont: California.

Patterson, CH. (2004). Do We Need Multicultural Counseling Competencies?. Journal of Mental Health Counseling.Vol. 26, 1, p. 67-73.

Sindonews. (2014). Perang Antar Suku di Timika Gunung Kembali Terjadi. (Online). (http://daerah.sindonews.com/read/866250/26/perang-antar-suku-di-timikagunung-kembali-terjadi), diakses 10 Agustus 2017.

Tempo. (2015). Kerusuhan Tolikara, 31 Orang Diperiksa Polisi. (Online). (http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/21/063685311/kerusuhan-tolikara-31-orang-diperiksa-polisi), diakses 10 Agustus 2017.

Tempo. (2015). Gereja Dibakar di Aceh Singkil, Bukan Kasus Pertama. (Online). (http://nasional.tempo.co/read/news/ Gereja Dibakar di Aceh Singkil, Bukan Kasus Pertama), diakses 11 Agustus 2017.

Tribunnews. (2013). Pengusutan Kasus Sampang Hasilkan 14 Butir Kesimpulan .(Online). (http://www.tribunnews.com/nasional/2013/08/26/pengusutan-kasus-sampanghasilkan-14-butir-kesimpulan), diakses 11 Agustus 2017.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.